CANTING BERAS (Cegah dan Atasi Stunting Bersama Lintas Sektor dan Masyarakat)



Inovasi canting beras terbentuk dari adanya masalah stunting di wilayah kerja puskesmas lumpatan. Sehingga untuk menurunkan kasus tersebut dibuat inovasi ini dengan melibatkan lintas sektor dan masyarakat untuk lebih termotifasi memberikan asi ekslusif sebagai salah satu pencegahan stunting. Asi ekslusif menjadi salah satu faktor yang menyebabkan angka stunting meningkat. 

Stunting pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Anak pendek ini merupakan gambaran kekurangan gizi kronis yang dimulai sejak janin hingga masa pertumbuhan sampai usia 2 tahun. Pemantauan status gizi pada tahun 2018 menunjukkan prevalensi balita di Indonesia masih tinggi yaitu sebesar 29,6%. Angka ini diatas standar yang ditetapkan WHO sebesar 20%. Prevalensi stunting di Sumsel tahun 2018 yaitu sebesar 22,8%. Prevalensi di Muba tahun 2018 sebesar 21,4%. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut UPT Puskesmas Lumpatan membuat inovasi sebagai upaya pencegahan dan mengatasi stunting pada wilayah kerja UPT Puskesmas Lumpatan.

Kegiatan pokok dan rincian kegiatan inovasi yaitu:

1. Meningkatkan Upaya Promotif dangan cara pemberian souvenir buku panduan pemberian makan bayi dan anak (PMBA) pada calon pengantin dan ibuhamil.

2. Pelayanan Integrasi di Puskesmas yaitu Pelayanan konseling materi ASI Eksklusif pada caten, Ibu hamil, Ibu bersalin di UPT Puskesmas Lumpatan; Deteksi dini stunting pada kunjungan balita diPuskesmas; Deteksi dini potensi stress pada ibu hamil yang dapat mempengaruhi asupan gizi ibuhamil; Konseling psikologi pada kasus hyperemesis; Konseling tumbuh kembang pada balita gizi kurang ataustunting; Konseling ibu balita yang mengalami gangguanpsikologi; Konseling ibu hamil dan balita yang mengalami gangguankesehatan; Kelas ibuhamil; Kelas ibubalita; Pelayanan Kesehatan Lingkungan berupa pelayanan konseling sanitasi pada kasus balita dengan kecacingan, diare, scabies danlain-lain; PelayananFisioterapi; dan Pelayanan fisioterapi pada balita dengan gangguan tumbuh kembang atau penyakit tertentu seperti batuk.

3. Meningkatkan peran Lintas Sektor yaitu menyampaikan informasi tentang stunting di pertemuan lintas sektor agar lintas sektor ikut berperan dalam mengatasi masalah stunting. Seperti pada pertemuan Lokakarya mini lintas sektor tribulan.

4. Memberikan apresiasi atas peran serta masyarakat dimana mulai tahun 2020 bayi yang lulus ASI eksklusif diberikan sertifikat ASI eksklusif oleh Puskesmas.

5. PelayananFisioterapi yang dilakukan pada balita dengan gangguan tumbuh kembang atau penyakit tertentu seperti batuk.

6. Penyuluhan Hatra (Penyehatan Tradisional) terkait tanaman toga.


Tujuan Inovasi

Menurunkan kasus stunting pada balita di wilayah UPT PuskemasLumpatan.

a. Menganalisis faktor resiko status ekonomi orang tua terhadap kejadian stunting pada balita di wilayah UPT PuskemasLumpatan.

b. Menganalisis faktor resiko ketahanan pangan keluarga terhadap kejadian stunting pada di wilayah PuskemasLumpatan.

Manfaat Inovasi

a. Manfaat teoritis

Menambah pengetahuan dan wawasan tentang faktor resiko yang mepengaruhi stunting pada balita usia 24-59 bulan khususnya mengenai status ekonomi orang tua dan ketahanan pangan keluarga UPT Puskemas Lumpatan.

b. Manfaat praktis

• BagiPuskesmas

Hasil inovasi ini diharapkan sebagai masukan dalam menentukan program penanggulangan stunting pada balita usia 24-59 bulan.

• Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten MusiBanyuasin

Monitoring pencapaian program Gizi Masyarakat.

• Bagi Masyarakat

Mencegah penyakit degeneratif dan meningkatkan generasi cerdas.



0 Comments:

Posting Komentar

© All Rights Reserved. 2026 . Template by OddThemes . Managed by Riduan Mulyadi